writejelin

Aditya.

Syania POV

Pagi ini jalanan tidak begitu ramai, jalanan kota juga tidak terlalu padat seperti hari-hari sebelumnya. Tidak mendung namun juga tidak terik, cuaca yang disenangi pria kesukaanku—Aditya namanya.

Hari ini aku ingin berkunjung ke peristirahatan terakhirnya, bersama Merapi—yang akan aku tebak pasti lelaki di sampingku ini adalah adik kesayangan Aditya.

Gundukan tanah dengan nisan yang sudah sedikit kusam kini sudah ada di depanku, masih sama, masih tetap terlihat rapih dan bersih, seakan-akan ia selalu menungguku datang untuk berkunjung.

“Assalamualaikum, Adit. Hai, aku datang lagi,” “Lihat deh aku bareng siapa hari ini, adik kamu hahaha.”

Aku bersimpuh di dekat gundukan itu, meletakkan sebuket bunga di depan nisan yang kini hampir menutupi setengahnya. Mengusap nisan kusam itu lagi-lagi dengan tatapan menyedihkan, seakan-akan nama yang tertulis pada nisan di depanku kini mampu menyalurkan banyak sekali kenangan kami berdua.

Kesadaranku kembali ketika Merapi mengusap pundak ku.

“Gak usah dipaksa kalau gak bisa Syan, kita berdoa aja ya? aku bantu.”

Aku menggeleng pelan. Bukan seperti ini, kali ini tujuanku pergi bertemu Aditya bukan untuk menunjukkan kesedihan ku lagi seperti kemarin-kemarin. Nisan di hadapanku dan juga tempat ku bersimpuh hari ini akan menjadi saksi bagaimana aku merayakan kesedihan ku dan kebahagiaan ku secara bersamaan. Bersorak-sorai untuk kedua kalinya sembari berharap semoga tidak akan pernah lagi kembali menangis dan bersimpuh pada nisan yang baru, nisan milik seseorang yang juga kelak akan aku cintai.

“Gak apa-apa,” aku tersenyum, meyakinkan Merapi yang kini raut wajahnya tampak khawatir.

“Aku harus, Mer. Aku mau bilang ke Aditya—abang kamu yang ganteng ini kalau aku sebentar lagi mau menikahi adiknya,” tatapanku kini beralih pada nisan putih di depanku.

“Lucu ya, ini kedua kalinya aku datang ke sini. Tujuannya juga sama, di tempat yang sama juga.” “Kemarin Ardanu, sekarang kamu. Iya kan, Dit?”

Aku menghela nafas sebentar, menahan sesak yang entah sejak kapan memenuhi dadaku.

Aku sudah ikhlas, benar-benar ikhlas, sungguh. Tapi mau bagaimanapun, tidak ada rasa sakit yang benar-benar hilang.

“Adit, aku mau menikah. Aku mau melanjutkan hidup aku sekarang,” “Maaf ya, maaf kemarin-kemarin aku selalu menentang takdir kalau kamu sebenarnya memang udah gak bisa sama aku.”

Aku menoleh sebentar pada Merapi, tersenyum tipis menandakan kalau semua baik-baik saja. Tatapan Merapi turun ke arah gundukan tanah milik Aditya, menatap peristirahatan saudaranya dengan sendu.

“Abang..” “Ijinin ya?” “Merapi mau menikahi Syania, tapi juga gak bakalan menggeser posisi abang di hati Syania. Merapi akan buat tempat Merapi sendiri di hati dia nanti.”

Aditya.

Syania POV

Pagi ini jalanan tidak begitu ramai, jalanan kota juga tidak terlalu padat seperti hari-hari sebelumnya. Tidak mendung namun juga tidak terik, cuaca yang disenangi pria kesukaanku—Aditya namanya.

Hari ini aku ingin berkunjung ke peristirahatan terakhirnya, bersama Merapi—yang akan aku tebak pasti di lelaki di sampingku ini adalah adik kesayangan Aditya.

Gundukan tanah dengan nisan yang sudah sedikit kusam kini sudah ada di depanku, masih sama, masih tetap terlihat rapih dan bersih, seakan-akan ia selalu menungguku datang untuk berkunjung.

“Assalamualaikum, Adit. Hai, aku datang lagi,” “Lihat deh aku bareng siapa hari ini, adik kamu hahaha.”

Aku bersimpuh di dekat gundukan itu, meletakkan sebuket bunga di depan nisan yang kini hampir menutupi setengahnya. Mengusap nisan kusam itu lagi-lagi dengan tatapan menyedihkan, seakan-akan nama yang tertulis pada nisan di depanku kini mampu menyalurkan banyak sekali kenangan kami berdua.

Kesadaranku kembali ketika Merapi mengusap pundak ku.

“Gak usah dipaksa kalau gak bisa Syan, kita berdoa aja ya? aku bantu.”

Aku menggeleng pelan. Bukan seperti ini, kali ini tujuanku pergi bertemu Aditya bukan untuk menunjukkan kesedihan ku lagi seperti kemarin-kemarin. Nisan di hadapanku dan juga tempat ku bersimpuh hari ini akan menjadi saksi bagaimana aku merayakan kesedihan ku dan kebahagiaan ku secara bersamaan. Bersorak-sorai untuk kedua kalinya sembari berharap semoga tidak akan pernah lagi kembali menangis dan bersimpuh pada nisan yang baru, nisan milik seseorang yang juga kelak akan aku cintai.

“Gak apa-apa,” aku tersenyum, meyakinkan Merapi yang kini raut wajahnya tampak khawatir.

“Aku harus, Mer. Aku mau bilang ke Aditya—abang kamu yang ganteng ini kalau aku sebentar lagi mau menikahi adiknya,” tatapanku kini beralih pada nisan putih di depanku.

“Lucu ya, ini kedua kalinya aku datang ke sini. Tujuannya juga sama, di tempat yang sama juga.” “Kemarin Ardanu, sekarang kamu. Iya kan, Dit?”

Aku menghela nafas sebentar, menahan sesak yang entah sejak kapan memenuhi dadaku.

Aku sudah ikhlas, benar-benar ikhlas, sungguh. Tapi mau bagaimanapun, tidak ada rasa sakit yang benar-benar hilang.

“Adit, aku mau menikah. Aku mau melanjutkan hidup aku sekarang,” “Maaf ya, maaf kemarin-kemarin aku selalu menentang takdir kalau kamu sebenarnya memang udah gak bisa sama aku.”

Aku menoleh sebentar pada Merapi, tersenyum tipis menandakan kalau semua baik-baik saja. Tatapan Merapi turun ke arah gundukan tanah milik Aditya, menatap peristirahatan saudaranya dengan sendu.

“Abang..” “Ijinin ya?” “Merapi mau menikahi Syania, tapi juga gak bakalan menggeser posisi abang di hati Syania. Merapi akan buat tempat Merapi sendiri di hati dia nanti.”

Pondasi Keluarga Kecil.

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, siapapun pasti mencari ketenangan di malam hari setelah seharian beraktivitas. Namun tidak dengan Ibu beranak satu ini, Achi sudah terlelap cukup lama di pelukannya. Sementara Syania masih bergelut dengan pikirannya sendiri sejak empat jam yang lalu.

Dirinya memang sempat bertukar obrolan dengan laki-laki yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya, ia selalu menggoda dirinya tanpa memikirkan bagaimana hubungan yang jelas antar keduanya. Dan berakhirlah dengan Syania yang menyesalinya.

'Harusnya gak gini, ini salah.' batinnya.

Drrt... Drrt

Getaran benda pipih miliknya mengganggu lamunannya, beruntung suara itu tidak menggangu anak gadisnya.

Pop up telepon menunjukkan nama sang sumber kekhawatirannya akhir-akhir ini.

Merapi menghubunginya, sebenarnya tidak ada yang salah dengan ia yang menghubunginya larut malam seperti ini, namun hari ini Syania merasa tak siap.

Setelah seharian Merapi menggodanya habis-habisan, jantungnya tidak cukup kuat untuk menghadapi lelaki tengil ini.

“Halo.”

“Halo, belum tidur?”

“Kalau udah aku gak akan angkat telfon kamu.”

Terdengar suara cekikikan di seberang. “Marah-marah terus kamu.”

“Biarin,” “Daripada sering ngegodain anak orang tapi gak dikasih kepastian, mending marah-marah.” Sindirnya, sengaja ia ungkapkan sedikit keganjalan hatinya malam itu.

Hening, Merapi tak menjawab ucapannya.

“Hahaha, sini dong keluar. Kedinginan nih aku.”

Syania mendengus, “boong mulu.”

“Gak bohong sayang, sini coba keluar. Liat nih aku bawa apa.”

“Ngapain sih?”

“Mau nginep.”

“Kemaren kan udah.”

“Kangen lagi. Sini ih cepetan.”

Syania menghela nafasnya, ia buru-buru memutuskan sambungan teleponnya. Beranjak untuk meletakkan Achi di kamar agar anak itu tak terbangun.

Dengan gerakan cepat ia berjalan ke arah pintu utama rumahnya, dilihatnya kursi taman yang berada di tengah-tengah taman rumahnya telah diduduki oleh lelaki bertubuh tegap dengan jaket hitam membalut tubuhnya serta tak lupa topi hitam bertuliskan Casablanca yang selalu ia pakai. Pria itu membelakanginya, Syania tak bisa melihat wajahnya.

“Merapi!”

Yang dipanggil menolehkan kepalanya, seketika senyum tipis menghiasi wajahnya. Meskipun temaram lampu taman tak sepenuhnya memperlihatkan parasnya, namun Syania masih bisa melihat wajah tampannya yang dihiasi senyuman tulusnya.

“Kenapa tiba-tiba mau nginep?” Kini pria itu berdiri di hadapannya, Syania membuka topi yang dikenakannya agar bisa melihat wajah itu dengan jelas.

“Kangeeen.” Dengan sekali gerakan Merapi memeluk dan mengangkat Syania di dalam pelukannya.

“Aduh! Merapi! udah ih, Achi udah tidur!” “Lagian tadi kan abis jalan, kenapa kangen terus, sih?”

“Ya emang gak boleh?”

“Boleh, semuanya boleh buat kamu.”

Lagi-lagi lelaki berkulit tan itu terkekeh melihat tingkah gemas Syania.

“Mandi dulu, abis itu baru tidur.” “Udah makan belum tadi?”

Merapi menggeleng, ia sibuk menciumi wajah lelap Achi. Menurutnya Achi adalah makhluk menggemaskan setelah Syania, hal itu sudah ia akui sejak pertama kali dirinya bertemu Achi.

“Mandi dulu kalau gitu, abis itu makan.”

“Oke, Bunda.” Ia beranjak lalu tak lupa mencium kening Syania dengan iseng sebelum berlari kecil ke kamar mandi.

“Merapi!”

“Iyaa Bunda sayang.” Teriaknya sambil tertawa terbahak-bahak.


“Kamu bawa apa?”

Kini, keduanya telah berakhir di kasur empuk milih Syania. Setelah menghadapi omelan Merapi tentang dirinya yang tak mau makan jika tidak disuapi oleh Syania.

Merapi membawa satu paper bag putih ke atas pangkuannya. Sementara tangan kanannya masih setia mendekap Syania sembari menciumi kening wanita itu.

“Kamu yang buka deh.”

Merapi memberikan benda yang dibawanya tadi pada Syania.

Syania mengernyit heran, dibukanya paper bag putih itu. Di dalamnya hanya ada satu benda berwarna biru tua yang ia yakini adalah sebuah ring box.

“Apa nih? ring box?” Syania menunjukkan kotak itu pada Merapi.

Pria itu terkekeh lalu mencium kening hingga bibir Syania. Tak ingin Syania bertanya-tanya lagi, Merapi membawa wanita itu ke pangkuannya.

“Buat kamu. Ring box dan isinya buat kamu,” “Ini semua, buat calon istri aku.”

Tercetak jelas wajah terkejut Syania, ia memandangi kotak cincin ditangannya dan Merapi bergantian. Terlalu tiba-tiba, namun juga tidak bisa berbohong bahwa inilah yang diinginkan Syania.

“M-maksudnya gimana, sih? bercanda ya kamu?”

Merapi tertawa pelan, betapa menggemaskannya wajah wanitanya saat ini. Kebingungan dan senang dalam satu waktu, pemandangan yang membahagiakan bagi Merapi.

Dengan gerakan pelan, ia meraih kotak cincin dari tangan Syania. Membukanya dan memasangkan cincin itu pada jari manis milik Syania. Terakhir, ia berikan ciuman hangat pada punggung tangan wanita beranak satu itu.

“Merapi?”

Merapi menatap Syania dengan tatapan teduhnya, seakan berharap wanitanya ini tahu bahwa dirinya benar-benar memujanya.

“Maaf ya kalau aku ngelamar nya gak romantis,” “Tapi niat aku betul-betul serius, Syan. Semuanya udah aku atur, aku atur sedemikian rupa cuma biar kita bisa sama-sama. Kamu gak perlu mikirin apa-apa lagi, ya?” “Maaf aku lama, maaf udah bikin kamu nunggu selama hampir dua tahun. Maaf ya, sayang?” “Jadi, Syania Meera Ibu dari Achi dan calon anak-anak aku nanti. Kamu bersedia, kan, menikah sama aku?”

Tidak ada yang bisa Syania ucapkan saat ini, air mata telah lolos dari pelupuk matanya. Penantiannya selama hampir dua tahun sudah dibayar lunas oleh semesta. Keresahannya ternyata didengar oleh alam semesta.

Syania tak menjawab apapun, ia tak mampu mengungkapkan kebahagiaannya. Dengan pelan ia menangkup wajah Merapi yang berada di hadapannya, memajukan wajahnya dan mencium bibir Merapi dengan lembut.

Ciumannya kini adalah sebagai jawaban atas keputusan yang telah Merapi berikan padanya, ia ingin Merapi mengerti bahwa tidak ada yang lebih besar selain perasaannya yang membuncah untuknya.

“Iya, Merapi. Ayo buat pondasi keluarga kecil kita mulai sekarang.”

Pondasi Keluarga Kecil.

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, siapapun pasti mencari ketenangan di malam hari setelah seharian beraktivitas. Namun tidak dengan Ibu beranak satu ini, Achi sudah terlelap cukup lama di pelukannya. Sementara Syania masih bergelut dengan pikirannya sendiri sejak empat jam yang lalu.

Dirinya memang sempat bertukar obrolan dengan laki-laki yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya, ia selalu menggoda dirinya tanpa memikirkan bagaimana hubungan yang jelas antar keduanya. Dan berakhirlah dengan Syania yang menyesalinya.

'Harusnya gak gini, ini salah.' batinnya.

Drrt... Drrt

Getaran benda pipih miliknya mengganggu lamunannya, beruntung suara itu tidak menggangu anak gadisnya.

Pop up telepon menunjukkan nama sang sumber kekhawatirannya akhir-akhir ini.

Merapi menghubunginya, sebenarnya tidak ada yang salah dengan ia yang menghubunginya larut malam seperti ini, namun hari ini Syania merasa tak siap.

Setelah seharian Merapi menggodanya habis-habisan, jantungnya tidak cukup kuat untuk menghadapi lelaki tengil ini.

“Halo.”

“Halo, belum tidur?”

“Kalau udah aku gak akan angkat telfon kamu.”

Terdengar suara cekikikan di seberang. “Marah-marah terus kamu.”

“Biarin,” “Daripada sering ngegodain anak orang tapi gak dikasih kepastian, mending marah-marah.” Sindirnya, sengaja ia ungkapkan sedikit keganjalan hatinya malam itu.

Hening, Merapi tak menjawab ucapannya.

“Hahaha, sini dong keluar. Kedinginan nih aku.”

Syania mendengus, “boong mulu.”

“Gak bohong sayang, sini coba keluar. Liat nih aku bawa apa.”

“Ngapain sih?”

“Mau nginep.”

“Kemaren kan udah.”

“Kangen lagi. Sini ih cepetan.”

Syania menghela nafasnya, ia buru-buru memutuskan sambungan teleponnya. Beranjak untuk meletakkan Achi di kamar agar anak itu tak terbangun.

Dengan gerakan cepat ia berjalan ke arah pintu utama rumahnya, dilihatnya kursi taman yang berada di tengah-tengah taman rumahnya telah diduduki oleh lelaki bertubuh tegap dengan jaket hitam membalut tubuhnya serta tak lupa topi hitam bertuliskan Casablanca yang selalu ia pakai. Pria itu membelakanginya, Syania tak bisa melihat wajahnya.

“Merapi!”

Yang dipanggil menolehkan kepalanya, seketika senyum tipis menghiasi wajahnya. Meskipun temaram lampu taman tak sepenuhnya memperlihatkan parasnya, namun Syania masih bisa melihat wajah tampannya yang dihiasi senyuman tulusnya.

“Kenapa tiba-tiba mau nginep?” Kini pria itu berdiri di hadapannya, Syania membuka topi yang dikenakannya agar bisa melihat wajah itu dengan jelas.

“Kangeeen.” Dengan sekali gerakan Merapi memeluk dan mengangkat Syania di dalam pelukannya.

“Aduh! Merapi! udah ih, Achi udah tidur!” “Lagian tadi kan abis jalan, kenapa kangen terus, sih?”

“Ya emang gak boleh?”

“Boleh, semuanya boleh buat kamu.”

Lagi-lagi lelaki berkulit tan itu terkekeh melihat tingkah gemas Syania.

“Mandi dulu, abis itu baru tidur.” “Udah makan belum tadi?”

Merapi menggeleng, ia sibuk menciumi wajah lelap Achi. Menurutnya Achi adalah makhluk menggemaskan setelah Syania, hal itu sudah ia akui sejak pertama kali dirinya bertemu Achi.

“Mandi dulu kalau gitu, abis itu makan.”

“Oke, Bunda.” Ia beranjak lalu tak lupa mencium kening Syania dengan iseng sebelum berlari kecil ke kamar mandi.

“Merapi!”

“Iyaa Bunda sayang.” Teriaknya sambil tertawa terbahak-bahak.


“Kamu bawa apa?”

Kini, keduanya telah berakhir di kasur empuk milih Syania. Setelah menghadapi omelan Merapi tentang dirinya yang tak mau makan jika tidak disuapi oleh Syania.

Merapi membawa satu paper bag putih ke atas pangkuannya. Sementara tangan kanannya masih setia mendekap Syania sembari menciumi kening wanita itu.

“Kamu yang buka deh.”

Merapi memberikan benda yang dibawanya tadi pada Syania.

Syania mengernyit heran, dibukanya paper bag putih itu. Di dalamnya hanya ada satu benda berwarna biru tua yang ia yakini adalah sebuah ring box.

“Apa nih? ring box?” Syania menunjukkan kotak itu pada Merapi.

Pria itu terkekeh lalu mencium kening hingga bibir Syania. Tak ingin Syania bertanya-tanya lagi, Merapi membawa wanita itu ke pangkuannya.

“Buat kamu. Ring box dan isinya buat kamu,” “Ini semua, buat calon istri aku.”

Tercetak jelas wajah terkejut Syania, ia memandangi kotak cincin ditangannya dan Merapi bergantian. Terlalu tiba-tiba, namun juga tidak bisa berbohong bahwa inilah yang diinginkan Syania.

“M-maksudnya gimana, sih? bercanda ya kamu?”

Merapi tertawa pelan, betapa menggemaskannya wajah wanitanya saat ini. Kebingungan dan senang dalam satu waktu, pemandangan yang membahagiakan bagi Merapi.

Dengan gerakan pelan, ia meraih kotak cincin dari tangan Syania. Membukanya dan memasangkan cincin itu pada jari manis milik Syania. Terakhir, ia berikan ciuman hangat pada punggung tangan wanita beranak satu itu.

“Merapi?”

Merapi menatap Syania dengan tatapan teduhnya, seakan berharap wanitanya ini tahu bahwa dirinya benar-benar memujanya.

“Maaf ya kalau aku ngelamar nya gak romantis,” “Tapi niat aku betul-betul serius, Syan. Semuanya udah aku atur, aku atur sedemikian rupa cuma biar kita bisa sama-sama. Kamu gak perlu mikirin apa-apa lagi, ya?” “Maaf aku lama, maaf udah bikin kamu nunggu selama hampir dua tahun. Maaf ya, sayang?” “Jadi, Syania Meera Ibu dari Achi dan calon anak-anak aku nanti. Kamu bersedia, kan, menikah sama aku?”

Tidak ada yang bisa Syania ucapkan saat ini, air mata telah lolos dari pelupuk matanya. Penantiannya selama hampir dua tahun sudah dibayar lunas oleh semesta. Keresahannya ternyata didengar oleh alam semesta.

Syania tak menjawab apapun, ia tak mampu mengungkapkan kebahagiaannya. Dengan pelan ia menangkup wajah Merapi yang berada di hadapannya, memajukan wajahnya dan mencium bibir Merapi dengan lembut.

Ciumannya kini adalah sebagai jawaban atas keputusan yang telah Merapi berikan padanya, ia ingin Merapi mengerti bahwa tidak ada yang lebih besar selain perasaannya yang membuncah untuknya.

“Iya, Merapi. Ayo buat pondasi keluarga kecil kita mulai sekarang.”

Pondasi Keluarga Kecil.

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, siapapun pasti mencari ketenangan di malam hari setelah seharian beraktivitas. Namun tidak dengan Ibu beranak satu ini, Achi sudah terlelap cukup lama di pelukannya. Sementara Syania masih bergelut dengan pikirannya sendiri sejak empat jam yang lalu.

Dirinya memang sempat bertukar obrolan dengan laki-laki yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya, ia selalu menggoda dirinya tanpa memikirkan bagaimana hubungan yang jelas antar keduanya. Dan berakhirlah dengan Syania yang menyesalinya.

'Harusnya gak gini, ini salah.' batinnya.

Drrt... Drrt

Getaran benda pipih miliknya mengganggu lamunannya, beruntung suara itu tidak menggangu anak gadisnya.

Pop up telepon menunjukkan nama sang sumber kekhawatirannya akhir-akhir ini.

Merapi menghubunginya, sebenarnya tidak ada yang salah dengan ia yang menghubunginya larut malam seperti ini, namun hari ini Syania merasa tak siap.

Setelah seharian Merapi menggodanya habis-habisan, jantungnya tidak cukup kuat untuk menghadapi lelaki tengil ini.

“Halo.”

“Halo, belum tidur?”

“Kalau udah aku gak akan angkat telfon kamu.”

Terdengar suara cekikikan di seberang. “Marah-marah terus kamu.”

“Biarin,” “Daripada sering ngegodain anak orang tapi gak dikasih kepastian, mending marah-marah.” Sindirnya, sengaja ia ungkapkan sedikit keganjalan hatinya malam itu.

Hening, Merapi tak menjawab ucapannya.

“Hahaha, sini dong keluar. Kedinginan nih aku.”

Syania mendengus, “boong mulu.”

“Gak bohong sayang, sini coba keluar. Liat nih aku bawa apa.”

“Ngapain sih?”

“Mau nginep.”

“Kemaren kan udah.”

“Kangen lagi. Sini ih cepetan.”

Syania menghela nafasnya, ia buru-buru memutuskan sambungan teleponnya. Beranjak untuk meletakkan Achi di kamar agar anak itu tak terbangun.

Dengan gerakan cepat ia berjalan ke arah pintu utama rumahnya, dilihatnya kursi taman yang berada di tengah-tengah taman rumahnya telah diduduki oleh lelaki bertubuh tegap dengan jaket hitam membalut tubuhnya serta tak lupa topi hitam bertuliskan Casablanca yang selalu ia pakai. Pria itu membelakanginya, Syania tak bisa melihat wajahnya.

“Merapi!”

Yang dipanggil menolehkan kepalanya, seketika senyum tipis menghiasi wajahnya. Meskipun temaram lampu taman tak sepenuhnya memperlihatkan parasnya, namun Syania masih bisa melihat wajah tampannya yang dihiasi senyuman tulusnya.

“Kenapa tiba-tiba mau nginep?” Kini pria itu berdiri di hadapannya, Syania membuka topi yang dikenakannya agar bisa melihat wajah itu dengan jelas.

“Kangeeen.” Dengan sekali gerakan Merapi memeluk dan mengangkat Syania di dalam pelukannya.

“Aduh! Merapi! udah ih, Achi udah tidur!” “Lagian tadi kan abis jalan, kenapa kangen terus, sih?”

“Ya emang gak boleh?”

“Boleh, semuanya boleh buat kamu.”

Lagi-lagi lelaki berkulit tan itu terkekeh melihat tingkah gemas Syania.

“Mandi dulu, abis itu baru tidur.” “Udah makan belum tadi?”

Merapi menggeleng, ia sibuk menciumi wajah lelap Achi. Menurutnya Achi adalah makhluk menggemaskan setelah Syania, hal itu sudah ia akui sejak pertama kali dirinya bertemu Achi.

“Mandi dulu kalau gitu, abis itu makan.”

“Oke, Bunda.” Ia beranjak lalu tak lupa mencium kening Syania dengan iseng sebelum berlari kecil ke kamar mandi.

“Merapi!”

“Iyaa Bunda sayang.” Teriaknya sambil tertawa terbahak-bahak.


“Kamu bawa apa?”

Kini, keduanya telah berakhir di kasur empuk milih Syania. Setelah menghadapi omelan Merapi tentang dirinya yang tak mau makan jika tidak disuapi oleh Syania.

Merapi membawa satu paper bag putih ke atas pangkuannya. Sementara tangan kanannya masih setia mendekap Syania sembari menciumi kening wanita itu.

“Kamu yang buka deh.”

Merapi memberikan benda yang dibawanya tadi pada Syania.

Syania mengernyit heran, dibukanya paper bag putih itu. Di dalamnya hanya ada satu benda berwarna biru tua yang ia yakini adalah sebuah ring box.

“Apa nih? ring box?” Syania menunjukkan kotak itu pada Merapi.

Pria itu terkekeh lalu mencium kening hingga bibir Syania. Tak ingin Syania bertanya-tanya lagi, Merapi membawa wanita itu ke pangkuannya.

“Buat kamu. Ring box dan isinya buat kamu,” “Ini semua, buat calon istri aku.”

Tercetak jelas wajah terkejut Syania, ia memandangi kotak cincin ditangannya dan Merapi bergantian. Terlalu tiba-tiba, namun juga tidak bisa berbohong bahwa inilah yang diinginkan Syania.

“M-maksudnya gimana, sih? bercanda ya kamu?”

Merapi tertawa pelan, betapa menggemaskannya wajah wanitanya saat ini. Kebingungan dan senang dalam satu waktu, pemandangan yang membahagiakan bagi Merapi.

Dengan gerakan pelan, ia meraih kotak cincin dari tangan Syania. Membukanya dan memasangkan cincin itu pada jari manis milik Syania. Terakhir, ia berikan ciuman hangat pada punggung tangan wanita beranak satu itu.

“Merapi?”

Merapi menatap Syania dengan tatapan teduhnya, seakan berharap wanitanya ini tahu bahwa dirinya benar-benar memujanya.

“Maaf ya kalau aku ngelamar nya gak romantis,” “Tapi niat aku betul-betul serius, Syan. Semuanya udah aku atur, aku atur sedemikian rupa cuma biar kita bisa sama-sama. Kamu gak perlu mikirin apa-apa lagi, ya?” “Maaf aku lama, maaf udah bikin kamu nunggu selama hampir dua tahun. Maaf ya, sayang?” “Jadi, Syania Meera Ibu dari Achi dan calon anak-anak aku nanti. Kamu bersedia, kan, menikah sama aku?”

Tidak ada yang bisa Syania ucapkan saat ini, air mata telah lolos dari pelupuk matanya. Penantiannya selama hampir dua tahun sudah dibayar lunas oleh semesta. Keresahannya ternyata didengar oleh alam semesta.

Syania tak menjawab apapun, ia tak mampu mengungkapkan kebahagiaannya. Dengan pelan ia menangkup wajah Merapi yang berada di hadapannya, memajukan wajahnya dan mencium bibir Merapi dengan lembut.

Ciumannya kini adalah sebagai jawaban atas keputusan yang telah Merapi berikan padanya, ia ingin Merapi mengerti bahwa tidak ada yang lebih besar selain perasaannya yang membuncah untuknya.

“Iya, Merapi. Ayo buat pondasi keluarga kecil kita mulai sekarang.”

Ikatan yang tak benar.

Syania menepuk pundak pria berjaket hitam itu, kali ini jaketnya bukan lagi berbahan kulit seperti biasanya. Namun, hal itu sama sekali tidak mengusik gaya berpakaiannya yang selalu menawan setiap harinya.

“Hai,” sapanya pelan.

“Hai, sini duduk.”

Ia meraih tangan Syania, digenggamnya tangan itu untuk duduk disampingnya. “Mau dinyanyiin apa?”

Syania mengernyit bingung. “Kamu beneran mau nyanyiin aku?”

“Emang ada aku bilang bercanda tadi?”

“Galak banget.”

Syania tersenyum tipis, melihat bagaimana lelaki di depannya ini sangat manis jika sedang bersamanya. Lelaki yang mengklaim hubungan mereka berdua sebagai seorang sahabat baik kini sedang menatapnya dengan teduh, Merapi selalu berada disampingnya sejak terakhir kali keduanya memutuskan bertemu. Ia juga tak segan menghubunginya tiap tengah malam untuk menemaninya hingga terlelap, terkadang sang puan selalu bertanya apa menu sarapan yang ingin dimakan pria itu dan rela mengantarnya meskipun kost Merapi sangat jauh dari tempatnya bekerja.

Sejujurnya ia masih terus bertanya-tanya, bahkan hingga detik ini ia terus bertanya pada dirinya sembari menatap kedua netra tegas itu. Perihal kejelasan status yang diberikan Merapi dan bagaimana mereka berdua menjalani hari bersama-sama serta juga tak jarang memberi skinship satu sama lain akhir-akhir ini. Apakah debaran jantungnya hanya berada di satu sisi? apakah seorang sahabat melakukan pelukan erat di setiap penghujung hari ketika mereka lelah bekerja? apakah begitu?

“Hei, kok bengong? mikirin apa?” Merapi mengusap pucuk kepala Syania pelan.

“H-hah? apa?”

“Mikirin apa?”

“Eh engga kok, gapapa hehe.”

“Dasar,” “Jangan suka ngelamun, kemasukan setan tau rasa kamu,” dicubitnya hidung mancung Syania, gemas.

“Ih! sakit!”

“Cemen, gitu doang sakit.”

Syania menggerutu, 'teman' nya ini memang ahli jika berurusan dengan tingkat kesabarannya yang bisa dibilang sangat tipis. Setiap bertemu tidak pernah sedikitpun ia membuat dirinya bersantai sejenak, selalu saja ada taktik menyebalkan yang membuat Syania harus memasang kesabaran yang lebih.

Merapi menatap kembali wajah masam wanita itu, tertawa kecil lalu menarik tubuh kecil Syania ke dalam pelukannya. Pelukan yang setiap harinya mereka berikan ketika pulang bekerja.

“Hahahah, maaf ya. Sakit beneran?”

Ia menundukkan kepalanya untuk melihat raut wajah menggemaskan yang kini berada di pelukannya itu, mengusap hidung cantik milik Syania dan tak lupa dengan pelukan yang masih sama sejak awal.

Deg

Lagi, detak jantungnya kembali bereaksi. Detakan milik Syania berpacu dengan rasa senang yang meletup-letup. Ia berharap pria itu tidak mendengarnya, biarlah dia sendiri yang merasakan perasaan tersiksa namun membahagiakan ini. Syania tidak ingin memaksa apapun kali ini.

“Syania...”

“Apa?”

“Aku boleh tanya?”

Syania mengernyit heran, sejak kapan Merapi meminta persetujuannya untuk bertanya. Biasanya dirinya akan menanyakan apapun yang ada dipikirannya tanpa perlu izin darinya.

“Tanya aja, kenapa?”

“Kamu sama Jevan udah deket banget, ya?”

Lagi-lagi Syania dibuat bingung, ia mendongak untuk melihat raut wajah Merapi yang saat ini masih memeluknya erat.

“Kenapa emangnya?”

Ia menggeleng. “Gapapa, nanya aja.”

“Aku sama Jevan udah temenan lama, dia kan, temen abang kamu. Jadi ya dia temen aku juga.”

“Temen doang? gak lebih? gak ada yang lain?”

Syania semakin dibuat bingung dengan pertanyaan tiba-tiba dari lelaki ini, tidak seperti biasanya. Seharusnya hal semacam ini tidak perlu dipertanyakan, sudah sangat jelas Jevan dan dirinya adalah teman. Tidak penting dan bukan ini pertanyaan yang ia harapkan.

'Ya iya temen doang, gue sama lo yang ada lebih-lebihnya'

Syania mengangguk. “Iya lah, emang maunya apa?”

“Ya aku maunya gak ada apa-apa aja,” “Jevan jelek, jangan mau. Kamu sama aku aja, ganteng.”

Sang puan terdiam, diam yang kesekian kalinya di dalam pelukan hangat Merapi. Merasakan usapan lembutnya namun kadang juga tak baik bagi kesehatan jantungnya.

Entah mau dibawa kemana hubungan sepasang teman ini, teman yang sering berbagi usapan dan pelukan, teman yang tidak mengijinkan mu bersama orang lain selain dirinya. Syania tidak merasakan adanya hubungan pertemanan lagi di antara dirinya dan Merapi, tidak lagi ada, persahabatannya telah diganti dengan sesuatu yang lebih.

Satu pihak telah mengakui dan memilih meninggalkan ikatan persahabatan, namun entah apa yang terjadi dengan pihak yang lain. Ia memilih tetap berlindung dibalik kata 'persahabatan' meskipun semesta tahu bahwa hatinya juga telah berlabuh sejak awal.

Kebahagiaan Merapi.

Kalau udah sampe, bilang ya. Aku tunggu sama anak-anak di depan teras rumah panti.

Pesan yang dikirimkan Merapi lima menit yang lalu masih belum ia balas, dirinya masih sibuk dengan pikiran-pikiran buruk tentang kemungkinan yang akan terjadi jika nanti pria itu melihat dengan siapa ia datang.

Hari ini keduanya memang sudah sepakat untuk bertemu di panti asuhan seperti janji Merapi kemarin lusa, bersenang-senang bersama anak-anak panti asuhan pasti sangat menyenangkan.

Namun berbeda dengan keputusan awal, Syania tidak datang sendirian. Ia putuskan untuk membawa dan mengenalkan Merapi kepada kedua orangtuanya. Hal yang sulit dan tidak mudah untuk diterima, namun jika terus mengulur waktu hatinya akan selalu merasa bersalah.

“Kita... mau ke panti asuhan?” “Merapi ada di sana, nak?”

Syania menggelar pelan, fokusnya masih ia tujukan pada jalanan yang cukup padat pagi itu. “Merapi ada di panti, tapi dia udah gak tinggal di sana lagi.”

“Merapi kerja, Ma,” “Merapi punya suara yang bagus, dia kerja di cafe Syania.”

Mendengar hal itu, Sang Ibu hanya terdiam. Penyesalan lagi-lagi menghantui pikirannya, anak bungsunya ternyata sedang berusaha bertahan hidup sendirian.

“Ayah,” “Adit belum tahu, ya, kalau dia punya adik kembar?”

Bagai disambar petir, hati lelaki yang kini sudah tak muda lagi itu begitu nyeri dibuatnya. Mengingat bahwa anak pertamanya tidak tahu-menahu tentang siapa sosok adik kembarnya, semuanya dirahasiakan, dan merahasiakan hal ini juga adalah sebuah kesalahan.

“Belum,” Ayah menundukkan kepalanya, menyesal.

Syania berusaha mengukir senyumnya, ia tahu hal semacam ini memang kejam dan tidak pantas untuk diterima bagi pria berhati baik seperti Merapi.

“Gapapa. Habis ini tolong perlakukan Merapi dengan baik, ya?” “Udah bertahun-tahun lamanya, dan sekarang dia udah sebesar sekarang. Merapi gak pantas dapat perlakuan buruk lagi dari siapapun, dari kecil juga cuma bermodal asuhan dari Ibu panti asuhan tapi dia berhasil jadi laki-laki yang baik dan bijaksana. Sama seperti Ayah sekarang. Iya, kan?”

Hanya itu, hanya itu yang bisa Syania ungkapkan pada kedua orangtua kandung Merapi.

Sebagai seseorang yang tahu cukup banyak tentang pria itu, ia tak ingin lagi Merapi memikirkan ongkos angkutan umum setiap harinya dan seharian penuh bekerja tanpa minum air putih karena tidak memiliki cukup uang. Menyakitkan baginya, Merapi pantas mendapatkan sesuatu yang lebih ini semua.


Suasana panti cukup ramai pagi itu, anak-anak terlihat bermain kesana-kemari. Pemandangan yang menyenangkan untuk dipandang.

Dilihatnya laki-laki bertubuh tinggi dengan jaket kulit yang biasa ia kenakan, tangannya ia bawa untuk menenangkan bocah kecil yang menangis sesenggukan. Tanpa sadar sang puan tersenyum tipis melihat aksi mengharukan di depannya.

Dulu, sosok yang sering membantunya menenangkan anak semata wayangnya adalah Aditya. Kini orang yang berbeda namun dengan paras yang sama juga melakukan hal yang sama.

“Mama, Ayah..” telunjuknya ia bawa untuk memberi tahu sosok yang kini membelakangi mereka. “Itu Merapi, anak Mama dan Ayah.”

Kedua orangtua itu terdiam. “Kita ke sana, ya?”

Dituntunnya Ayah dan Ibu Aditya untuk menghampiri pria berkulit tan dan si pemilik senyum paling manis ini, makin dekat, makin terdengar pula suara lembut namun tegas di telinga Ibu Aditya.

Suara yang sama persis seperti yang dimiliki Aditya, anak bungsunya juga memiliki hal yang sama. Kakak beradik ini memang punya banyak sekali kesamaan fisik.

“Merapi!” Syania menepuk pundak Merapi pelan.

Kepalanya menoleh cepat pada sumber suara, mendongakkan kepalanya dengan posisinya yang kini sedang berjongkok.

“Lama banget aku tungguin dari tadi.”

Syania tertawa pelan. “Iya maaf, aku ada perlu sebentar. Jangan bawel.”

Wajahnya mendecih serta melirik sinis ke arah Syania, memang kebiasaannya. Selalu memasang wajah tengil ketika sedang kesal.

Namun mau bagaimanapun, Syania tetap menyukainya.

Sedetik kemudian, kesadarannya teralihkan dengan kehadiran wanita dan pria paruh baya di belakang Syania. Sedikit penasaran, mengapa Syania membawa kedua orang ini ikut bersamanya.

“Eh, ini siapa? orangtua kamu, ya, Syan?” “Halo om, tante. Selamat pagi, kenalin saya Merapi, temennya Syania.”

Perasaan Ayah dan Ibu Aditya campur aduk, terlalu mengejutkan melihat anak bungsunya yang ternyata sudah dewasa dan parasnya yang begitu mirip dengan Aditya.

“Merapi, aku mau ngomong dulu sebentar, boleh?” “Jangan dipotong sebelum aku selesai ngomong, ya?”

Merapi mengangguk pasti. “Boleh, kenapa?”

Syania memundurkan langkahnya untuk mensejajarkan dirinya dengan Ayah dan Ibu Aditya, mengambil banyak pasokan udara untuk membuat keberaniannya datang.

Karena, jujur saja. Banyak kemungkinan buruk yang ia pikirkan sejak tadi.

“Merapi...” “Kedua orangtua ini, bukan orangtuaku. Tapi aku sudah anggap mereka juga orangtuaku sejak tiga tahun yang lalu.”

“Maksudnya?”

“Merapi... kamu punya saudara kembar. Kamu punya kakak kandung.” “Dan mereka berdua ini, orangtua kandung kamu...”

Netra milik Merapi menatap Syania tajam, tidak ada tatapan hangat seperti biasanya. Sungguh, wanita itu hanya bisa mengandalkan sisa keberaniannya saat ini.

“Gak usah bercanda, Syan.”

“Tapi aku gak bercanda, Mer..”

Merapi masih terdiam kaku, ada rasa senang dan bingung dalam dirinya. Senang karena ternyata Tuhan masih berbaik hati mempertemukan dirinya dengan Ayah dan Ibunya, ia harus bersyukur. Namun sedikit bingung dengan kenyataan yang telah ia terima.

Perlahan lelaki paruh baya itu melangkah pelan ke arah dirinya, air mata telah lolos dari pelupuk matanya. Diusapnya bahu anak bungsunya itu, matanya tak sedikitpun berpaling dari netra milik pria bertubuh tinggi di depannya.

“Anak Ayah..” “Sudah besar, ya, nak? maafin Ayah dan Mama, ya? Maaf, kami berdua memang orang tua yang gampang goyah dan gak becus.” “Maaf, Maaf, Merapi..”

Ayah Merapi bersimpuh di kedua kaki pria itu, rasa bersalahnya membuncah tinggi. Melihat bagaimana Merapi tumbuh dengan baik tanpa kasih sayang kedua orang tuanya membuat penyesalannya kembali datang.

“Merapi..” “Ini Mama, nak. Merapi anak Mama tampan sekali. Merapi pasti benci Mama, ya?” “Maaf, ya, sayang? Mama dan Ayah sayang sekali sama Merapi.”

Merapi kini dipeluk erat oleh sang Ibunda, begitu dalam rasa rindunya pada si bungsu.

Bertahun-tahun yang lalu, nyawanya terancam karena tradisi dari keluarga sang Ayah. Tidak ada yang diperbolehkan memiliki keturunan lebih dari satu, mau tidak mau keduanya mengirim Merapi ke panti asuhan demi keselamatannya. Tak ada maksud lain ataupun rasa enggan kepada Merapi, niatnya memang murni untuk nyawa anak bungsunya. Kasih sayangnya sama dan akan terus bertambah setiap harinya.

“M-Mama... Ayah...”

Panggilan pertamanya untuk orang tua kandungnya, bagai bayi yang baru saja terlahir ke dunia, sebuah panggilan sederhana namun sangat berkesan bagi sepasang suami-istri itu. Anak bungsunya telah kembali, ia telah kembali ke dalam pelukannya.

“Iya, iya sayang. Ini Mama dan Ayah.”

Pelukan hangat menjadi pemandangan yang begitu menyejukkan hati, Merapi kini telah menemukan rumahnya. Kemungkinan buruk yang ia pikirkan sejak tadi ternyata tak berlaku bagi manusia seperti Merapi. Dirinya penuh dengan aura baik, tidak ada sedikitpun rasa dendam dan benci dalam dirinya.

Merapi berusaha mengerti, ia tak mampu membenci kedua orangtuanya meskipun dia ingin. Rasa haru dan senang terlalu menguasai hatinya.

“Ayah.. Mama..” “Merapi akhirnya punya orang tua..”

Partner jelek.

Pagi itu suasana cafe tidak cukup ramai, hanya ada beberapa mahasiswa dan lelaki paruh baya yang sedang sibuk dengan benda nikotinnya di ruangan khusus merokok.

Jevan bilang hari ini ia tidak bisa datang terlalu awal, itu sebabnya sekarang Syania datang lebih awal untuk mengawasi cafe sejak jam delapan pagi tadi. Untung saja anak gadisnya pergi ke sekolah bersama ibunya, setidaknya dirinya tidak terlalu terburu-buru untuk pergi bekerja.

Ruangan khusus milik Syania kini diketuk pelan, interupsi dari wanita itu memperlihatkan salah satu pelayan cafe yang menyembulkan kepalanya untuk melihat ruangan boss nya.

“Syania, ada yang nyariin kamu tuh di depan.”

Syania mengernyitkan alisnya. “Siapa?”

“Itu, vokalis band yang kemarin. Kamu ada buat janji ya sama dia?”

Benar saja, ia hampir melupakan janjinya dengan pria itu. Syania menepuk dahinya pelan, pasti Merapi sudah menunggunya sangat lama.

“Ya ampun, iya deh sebentar. Aku keluar.”

Syania melangkahkan kakinya segera, merasa bersalah. Harusnya ia menemui Merapi di taman yang terletak di dekat cafe hari ini.

Jalannya sangat tergesa-gesa, mengunci pintu ruangannya, hingga merapikan sepatu yang tadinya ia lepas. Terlalu sibuk dengan aktivitasnya, wanita itu sama sekali tidak ingat dengan siapa ia akan bertemu, tidak ingat dengan bagaimana sosok yang ia ajak bertemu nanti.

Mulutnya terus bergumam tidak jelas, hingga tidak sadar seseorang memperhatikannya dari depan pintu cafe.

Syania tidak kunjung mendongakkan kepalanya, sibuk dengan urusannya sendiri.

“Mbak Syania?”

Suara pria itu menghentikan aktivitasnya, berhenti sejenak berusaha mencerna apa yang baru saja ia dengar.

Perlahan ia mengangkat kepalanya, menemukan sumber suara yang membuatnya berdiri kaku. Tatapan mereka bertemu, Merapi menatapnya tepat di mata Syania. Netra yang selama ini ia rindu-rindukan, kini kembali bertemu dengan netra miliknya.

Meskipun pria ini bukan kekasihnya, tetapi Merapi seperti memiliki setengah dari jiwa yang dimiliki Adit. Paras yang begitu sempurna, mengingatkan Syania kembali kepada lelakinya. Tubuhnya terasa lemas, kenangan bertahun-tahun yang lalu seperti kembali tertarik ke dalam dirinya. Perasaan kehilangan akan Aditya lagi-lagi menghinggapi hatinya.

Syania berusaha meraih apapun disekitar untuk membantunya menopang tubuhnya, kakinya seperti tak kuasa menahan beban tubuhnya sendiri.

“Mbak? mbak Syania? kenapa?”

Dengan cepat Merapi menghampiri wanita itu, melihat bagaimana boss nya ini linglung ia dengan langsung menahannya agar tidak jatuh.

“Mbak kalau sakit gak usah dipaksain gapapa, ngobrolnya bisa kapan-kapan aja.”

Syania menggeleng pelan, benar apa yang telah dipesankan oleh Jevan. Ia harus bisa menahan diri, kelemahannya sekarang ada di depannya. Sangat sulit mengkontrol dirinya sendiri.

“Gapapa, Merapi. Pusing sedikit aja.”

“Yaudah, biar saya bantu, ya? di taman depan, kan?”

Syania mengangguk. “Iya, makasih, ya”

Dengan cekatan lelaki itu membantu dirinya berjalan, beruntungnya letak taman yang dimaksud tidak terlalu jauh, hanya perlu menyebrangi jalan raya dan sampai.


“Udah baikan belum?”

“Udah. Makasih ya? Maaf juga udah buat kamu nunggu lama.”

“Gapapa mbak hehe. Nunggu doang mah saya jago,” ia mengacungkan jempolnya. Deretan giginya berpadu dengan tawanya yang begitu renyah di telinga Syania.

Merapi ternyata sangat bertolak belakang dengan Adit. Keduanya memang saudara kembar, namun sifatnya bagaikan langit dan bumi. Adit memiliki aura yang menyeramkan sewaktu kali pertama keduanya bertemu, sedikit pemarah, gengsinya sangat tinggi, sisi hangatnya hanya diberikan kepada orang-orang tertentu. Orang-orang jaman sekarang menyebutnya 'tsundere.'

Berbeda dengan Merapi, pria itu benar-benar menunjukkan kehangatannya kepada siapapun. Ceria, suka sekali tertawa dengan hal-hal kecil, dan juga pria ini tak segan-segan untuk melontarkan banyak gurauan lucu sehingga dapat membuat siapapun betah duduk bersamanya.

Seperti sekarang, sudah 20 menit mereka berbincang namun Syania tetap masih betah untuk tinggal.

“Jadi kamu ikut band untuk nambah-nambah penghasilan, ya?”

“Ya itu juga salah satunya, sih, mbak—”

“Jangan panggil mbak dong, panggil Syania aja,” potongnya.

“Yah, gak sopan dong saya.”

“Kenapa gak sopan? Kita udah temenan, kan, sekarang. Jadi ngapain ngomong formal?”

“Hahaha” “Pengen banget temenan sama saya?”

Sudah Syania tebak, pria ini sungguh ajaib. “Ya pengen dong? kamu gak mau jadi temen saya?”

“Gak mau, ah.”

Syania menatap Merapi dengan heran.

“Hehehe, bercanda. Serem banget mukanya.”

Lagi-lagi ia dibuat kaget dengan Adik dari kekasihnya ini, sedikit menyebalkan namun Syania menikmatinya.

“Kapan-kapan ajak aku ke panti asuhan kamu yang dulu dong,” ucap Syania. Merapi memang sudah menceritakan banyak hal, dimulai dari dirinya yang hidup di panti asuhan sejak kecil dan bagaimana ia begitu menyayangi ibu panti di sana.

“Emang kamu mau?”

“Ya kenapa harus gak mau?”

Pertanyaan lawan bicaranya ini memang selalu membuatnya bertanya-tanya, untuk sebagian orang, pertanyaan Merapi sedari tadi mungkin akan membuat mereka naik darah. Namun tidak bagi Syania, pertanyaan-pertanyaan tidak pentingnya itu justru menjadi daya tariknya sendiri.

“Kamu kan orang sibuk, mana mau ikut ke panti. Gak sempat pasti.”

“Dih,” “Aku bukan presiden.”

“Emang bukan lah, kamu Syania.”

“IHH???”

Merapi menertawai wajah menggerutu di depannya, sangat menyenangkan menjahili boss nya ini.

“Yaudah, lusa aku ke panti. Ikut gak ibu boss?”

“IKUUUT!!” “Mau kenalan sama ibu panti juga dong nanti.”

“Ngapain?”

“Mau tanya, Merapi dulu bandel atau engga,” Syania menaik-turunkan alisnya. Berbalik menjahili pria di depannya ini.

“Aku anak soleh, mana mungkin bandel. Meskipun suka ketiduran di deket selokan aku tetep anak soleh.”

“IHHH BUKA AIB SENDIRI, GILA YA KAMU??”

“Gapapa, yang penting tetep ganteng,” lagi, kepercayaan dirinya datang lagi.

“Jelek.” “Udah nyatu sama selokan mana ada ganteng.”

Sebenarnya Syania ingin mengakui ketampanan lelaki itu, benar, benar yang ia katakan. Mau bagaimanapun, Merapi selalu tampan.

“Gapapa deh, yang penting aku punya partner jelek. Jadi gak sendirian.”

Syania mengerutkan keningnya, belum mengerti dengan apa yang dimaksud pria ini. “Siapa?”

Merapi melirik ke arah Syania sekilas lalu kembali menatap jalanan, senyum jahilnya terlihat lagi.

“Syania.”

“MERAPI SIALAN!”

Sama namun berbeda.

Sore itu, langit jingga menghiasi jumantara. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, Syania masih betah untuk duduk di sebelah nisan bertuliskan 'Aditya Putra Mahanta'

Doa-doa telah ia panjatkan serta menaburkan bunga di atas gundukan tanah milik Adit. Tidak lupa bercerita tentang kesehariannya, seakan-akan pria itu sedang berada menatapnya dengan tatapan hangatnya.

“Udah dulu ya, Dit. Nanti aku ke sini lagi,” ucapnya lembut, sebelum beranjak ia mencium nisan putih itu. Menunjukkan rasa rindunya yang tak kuasa ia tahan.

Hari ini memang jadwalnya lumayan padat, dari pagi ia harus mengurus segala hal. Seperti memasak sarapan untuk Achi, menghitung pengeluaran dan pemasukan cafe miliknya, serta tak lupa mengunjungi makam Aditya. Benar saja, sesibuk apapun urusannya, mengunjungi Aditya adalah hal yang tidak boleh ia lewatkan.


Tepat pukul enam malam Syania sampai di cafe, setelah membantu Achi dengan tugas rumahnya ia mengantar si kecil ke rumah ibunya.

Suasana cafe cukup ramai, banyak mahasiswa yang tengah sibuk dengan tugas kampusnya, serta anak muda lainnya yang sedang bercengkrama. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.

Syania melangkahkan kakinya menuju pintu cafe, membukanya dan menelisik seluruh seisi cafe. Matanya menemukan Jevan berada, sepertinya pria itu sedang melayani beberapa pelanggan.

Dilihatnya panggung kecil yang terletak di depan para kursi pelanggan, kosong, di mana band Jagu? hanya ada beberapa alat musiknya saja yang tergeletak di sana.

“Jevan,” “Jagu sama bandnya kemana? kok cuma ada alat musiknya doang?” tanyanya pada Jevan.

“Gak tau, kata Fani lagi break bentar. Gua gak sempet liatin dari awal, nyokap gua tiba-tiba ngajakin telfonan,” “Tenang aja sih, mereka beneran kerja kok, gak nipu,” sindirnya pada Syania.

Syania mencebik, sadar akan dirinya yang sedang disindir oleh temannya ini. “Ya yaudah.”

Syania berlalu dari tempatnya, hendak pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya. Terlalu jengah jika terus-terusan berada di tempat yang sama dengan Jevan, ia pasti akan disindir habis-habisan oleh pria itu.

Kakinya melangkah menuju toilet wanita yang terletak di lorong ujung cafe, letak toilet wanita dan pria hanya berjarak 20 langkah saja di lorong itu. Jadi siapapun bisa melihat siapa saja yang keluar dari salah satu toilet.

Syania sudah akan meraih pintu toilet, pikirannya saat ini hanya ingin menyegarkan kembali wajahnya dengan air dingin yang nikmat setelah lelah seharian pergi ke sana dan kemari.

Bekerja seorang diri memang membuatnya kewalahan.

Namun gerakan tangannya terhenti ketika ia melirik pintu toilet pria yang terbuka dan memperlihatkan sosok yang membuatnya tercengang saat Jagu menemuinya kemarin pagi, sosok itu, sosok yang ia lihat kemarin.

Sosok yang parasnya seperti hasil cetakan murni milik kekasihnya. Rambutnya coklat gelap, sedangkan milik Aditya hitam legam. Pria itu memakai kaos putih yang dibalut dengan jaket kulit hitam dan tas selempang yang bertengger di punggungnya, serta tak lupa masker yang menutupi setengah wajahnya. Namun demi Tuhan, Syania hafal betul dengan bentuk tubuh dan paras yang tertutup masker putih itu.

Pria itu, benar-benar mengambil alih paras milik Aditya sepenuhnya. Kali ini Syania tidak mengigau, terbukti dengan langkah kaki pria itu yang menjauh dari jangkauannya.

Dalam diam, ia bersyukur pada Tuhan karena memberinya kesempatan untuk melihat wajah itu sekali lagi. Sosok itu, nyata.

Tuhan mengirimkan kembali sosok Aditya namun dengan jiwa dan versi yang berbeda.

“Adit..” “Kamu dateng, ya?”

Sosok buram.

Pagi itu entah mengapa hujan begitu derasnya mengguyur kota, banyak pekerja yang kewalahan menghadapi musim hujan ini. Lalu lintas menjadi sangat padat, jam menunjukkan pukul delapan pagi. Tentu saja orang-orang berdasi itu terburu-buru, merepotkan sekali.

Tapi tidak dengan wanita beranak satu yang kini dengan wajah muramnya menghadapi musim penghujan, dirinya sangat membenci hujan. Penderitaannya dimulai dari setitik air hujan di kala itu.

Setahun yang lalu, Syania memutuskan untuk berhenti bekerja di kantor milik Adit. Terlalu banyak hal yang membuat dirinya sesak jika terus diam di tempat itu, maka dari itu ia memutuskan untuk membangun sebuah cafe. Beruntungnya, sahabat karib Aditya bersedia untuk membantunya.

“Syan,” “Bengong aja terus, baru kapok kalau udah kesamber petir.”

“Apaan sih?” sinis Syania, tontonannya saat ini memang tidak terlalu penting. Namun hanya dengan ini dirinya bisa mengenang kembali bagaimana dirinya sangat beruntung.

Jevan mendengus sebal. “Itu anak bandnya udah dateng.”

Syania melirik sekilas, terlihat seseorang dengan tas gitar di punggungnya sedang memandangi seisi cafe. Ia menghampiri lelaki itu berniat untuk menyambut kedatangannya.

“Dengan Mas Jagu, ya?” sapanya pada lelaki jangkung itu.

“Betul, Mbak Syania, kan?”

Syania mengangguk, beberapa berkas ia letakkan di hadapannya.

“Baik, Mas Jagu, karena Mas Jagu sudah konfirmasi sebelumnya dengan Pak Jevan. Sekarang sudah bisa teken kontrak, ya.”

Jagu mengangguk setuju, dirinya dan tim memang sudah lama mengajukan diri untuk bekerja di sana. Kabar tentang ramainya cafe Syania membuatnya tergiur untuk tampil bersama teman-temannya di tempat itu.

“Kalau boleh tahu, saya dan tim bisa mulai kerja kapan, mbak?” ucapnya ramah. Tangannya terulur untuk memberikan kontrak yang sudah ia tanda tangani sebelumnya.

“Mulai besok bisa, nanti jam nya saya kabarin lagi.”

Syania melihat wajah rekan kerjanya itu begitu sumringah, sepertinya pekerjaan ini begitu menguntungkan bagi dirinya serta teman se–timnya.

“Terimakasih Mbak Syania, semoga suka dengan penampilan saya dan tim nanti,” “Kalau gitu saya permisi dulu.”

“Sama sama, sampai ketemu besok ya, Jagu.”

Ia beranjak dari duduknya, melirik sekilas benda pipih di tangannya. Tubuh jangkung itu perlahan menghilang dari pandangan Syania, sebuah mobil hitam seperti tengah menunggu kehadiran Jagu. Awalnya tidak ada yang aneh dengan mobil itu, namun kesadarannya seperti ditarik penuh ketika sang pengemudi perlahan membuka kaca jendela mobil.

Syania memang melihat Jagu masuk ke dalam mobil itu, namun kali ini fokusnya tidak lagi pada sosok Jagu.

“Gak mungkin..”

Belum lama dirinya memastikan sang pengemudi, mobil itu telah melaju dengan cepatnya dari hadapan Syania.

“Syan, kenapa?”

Dirinya dikagetkan oleh Jevan yang entah darimana datangnya, kesadarannya kembali. Namun ingatannya masih mengambang, tidak mungkin yang ia lihat tadi adalah sosoknya, sosok yang ia rindukan selama tiga tahun ini.

Syania menggeleng pelan. “Gapapa,” ia berusaha menyangkal semua kemungkinan yang ada. Penglihatannya mungkin sedang tidak baik-baik saja karena tengah merindukan lelakinya.

'Gak mungkin, Aditya udah gak ada. Sadar Syan.'