Kebahagiaan Merapi.
Kalau udah sampe, bilang ya.
Aku tunggu sama anak-anak di depan teras rumah panti.
Pesan yang dikirimkan Merapi lima menit yang lalu masih belum ia balas, dirinya masih sibuk dengan pikiran-pikiran buruk tentang kemungkinan yang akan terjadi jika nanti pria itu melihat dengan siapa ia datang.
Hari ini keduanya memang sudah sepakat untuk bertemu di panti asuhan seperti janji Merapi kemarin lusa, bersenang-senang bersama anak-anak panti asuhan pasti sangat menyenangkan.
Namun berbeda dengan keputusan awal, Syania tidak datang sendirian. Ia putuskan untuk membawa dan mengenalkan Merapi kepada kedua orangtuanya. Hal yang sulit dan tidak mudah untuk diterima, namun jika terus mengulur waktu hatinya akan selalu merasa bersalah.
“Kita... mau ke panti asuhan?”
“Merapi ada di sana, nak?”
Syania menggelar pelan, fokusnya masih ia tujukan pada jalanan yang cukup padat pagi itu. “Merapi ada di panti, tapi dia udah gak tinggal di sana lagi.”
“Merapi kerja, Ma,”
“Merapi punya suara yang bagus, dia kerja di cafe Syania.”
Mendengar hal itu, Sang Ibu hanya terdiam. Penyesalan lagi-lagi menghantui pikirannya, anak bungsunya ternyata sedang berusaha bertahan hidup sendirian.
“Ayah,”
“Adit belum tahu, ya, kalau dia punya adik kembar?”
Bagai disambar petir, hati lelaki yang kini sudah tak muda lagi itu begitu nyeri dibuatnya. Mengingat bahwa anak pertamanya tidak tahu-menahu tentang siapa sosok adik kembarnya, semuanya dirahasiakan, dan merahasiakan hal ini juga adalah sebuah kesalahan.
“Belum,” Ayah menundukkan kepalanya, menyesal.
Syania berusaha mengukir senyumnya, ia tahu hal semacam ini memang kejam dan tidak pantas untuk diterima bagi pria berhati baik seperti Merapi.
“Gapapa. Habis ini tolong perlakukan Merapi dengan baik, ya?”
“Udah bertahun-tahun lamanya, dan sekarang dia udah sebesar sekarang. Merapi gak pantas dapat perlakuan buruk lagi dari siapapun, dari kecil juga cuma bermodal asuhan dari Ibu panti asuhan tapi dia berhasil jadi laki-laki yang baik dan bijaksana. Sama seperti Ayah sekarang. Iya, kan?”
Hanya itu, hanya itu yang bisa Syania ungkapkan pada kedua orangtua kandung Merapi.
Sebagai seseorang yang tahu cukup banyak tentang pria itu, ia tak ingin lagi Merapi memikirkan ongkos angkutan umum setiap harinya dan seharian penuh bekerja tanpa minum air putih karena tidak memiliki cukup uang. Menyakitkan baginya, Merapi pantas mendapatkan sesuatu yang lebih ini semua.
Suasana panti cukup ramai pagi itu, anak-anak terlihat bermain kesana-kemari. Pemandangan yang menyenangkan untuk dipandang.
Dilihatnya laki-laki bertubuh tinggi dengan jaket kulit yang biasa ia kenakan, tangannya ia bawa untuk menenangkan bocah kecil yang menangis sesenggukan. Tanpa sadar sang puan tersenyum tipis melihat aksi mengharukan di depannya.
Dulu, sosok yang sering membantunya menenangkan anak semata wayangnya adalah Aditya. Kini orang yang berbeda namun dengan paras yang sama juga melakukan hal yang sama.
“Mama, Ayah..” telunjuknya ia bawa untuk memberi tahu sosok yang kini membelakangi mereka. “Itu Merapi, anak Mama dan Ayah.”
Kedua orangtua itu terdiam. “Kita ke sana, ya?”
Dituntunnya Ayah dan Ibu Aditya untuk menghampiri pria berkulit tan dan si pemilik senyum paling manis ini, makin dekat, makin terdengar pula suara lembut namun tegas di telinga Ibu Aditya.
Suara yang sama persis seperti yang dimiliki Aditya, anak bungsunya juga memiliki hal yang sama. Kakak beradik ini memang punya banyak sekali kesamaan fisik.
“Merapi!” Syania menepuk pundak Merapi pelan.
Kepalanya menoleh cepat pada sumber suara, mendongakkan kepalanya dengan posisinya yang kini sedang berjongkok.
“Lama banget aku tungguin dari tadi.”
Syania tertawa pelan. “Iya maaf, aku ada perlu sebentar. Jangan bawel.”
Wajahnya mendecih serta melirik sinis ke arah Syania, memang kebiasaannya. Selalu memasang wajah tengil ketika sedang kesal.
Namun mau bagaimanapun, Syania tetap menyukainya.
Sedetik kemudian, kesadarannya teralihkan dengan kehadiran wanita dan pria paruh baya di belakang Syania. Sedikit penasaran, mengapa Syania membawa kedua orang ini ikut bersamanya.
“Eh, ini siapa? orangtua kamu, ya, Syan?”
“Halo om, tante. Selamat pagi, kenalin saya Merapi, temennya Syania.”
Perasaan Ayah dan Ibu Aditya campur aduk, terlalu mengejutkan melihat anak bungsunya yang ternyata sudah dewasa dan parasnya yang begitu mirip dengan Aditya.
“Merapi, aku mau ngomong dulu sebentar, boleh?”
“Jangan dipotong sebelum aku selesai ngomong, ya?”
Merapi mengangguk pasti. “Boleh, kenapa?”
Syania memundurkan langkahnya untuk mensejajarkan dirinya dengan Ayah dan Ibu Aditya, mengambil banyak pasokan udara untuk membuat keberaniannya datang.
Karena, jujur saja. Banyak kemungkinan buruk yang ia pikirkan sejak tadi.
“Merapi...”
“Kedua orangtua ini, bukan orangtuaku. Tapi aku sudah anggap mereka juga orangtuaku sejak tiga tahun yang lalu.”
“Maksudnya?”
“Merapi... kamu punya saudara kembar. Kamu punya kakak kandung.”
“Dan mereka berdua ini, orangtua kandung kamu...”
Netra milik Merapi menatap Syania tajam, tidak ada tatapan hangat seperti biasanya. Sungguh, wanita itu hanya bisa mengandalkan sisa keberaniannya saat ini.
“Gak usah bercanda, Syan.”
“Tapi aku gak bercanda, Mer..”
Merapi masih terdiam kaku, ada rasa senang dan bingung dalam dirinya. Senang karena ternyata Tuhan masih berbaik hati mempertemukan dirinya dengan Ayah dan Ibunya, ia harus bersyukur. Namun sedikit bingung dengan kenyataan yang telah ia terima.
Perlahan lelaki paruh baya itu melangkah pelan ke arah dirinya, air mata telah lolos dari pelupuk matanya. Diusapnya bahu anak bungsunya itu, matanya tak sedikitpun berpaling dari netra milik pria bertubuh tinggi di depannya.
“Anak Ayah..”
“Sudah besar, ya, nak? maafin Ayah dan Mama, ya? Maaf, kami berdua memang orang tua yang gampang goyah dan gak becus.”
“Maaf, Maaf, Merapi..”
Ayah Merapi bersimpuh di kedua kaki pria itu, rasa bersalahnya membuncah tinggi. Melihat bagaimana Merapi tumbuh dengan baik tanpa kasih sayang kedua orang tuanya membuat penyesalannya kembali datang.
“Merapi..”
“Ini Mama, nak. Merapi anak Mama tampan sekali. Merapi pasti benci Mama, ya?”
“Maaf, ya, sayang? Mama dan Ayah sayang sekali sama Merapi.”
Merapi kini dipeluk erat oleh sang Ibunda, begitu dalam rasa rindunya pada si bungsu.
Bertahun-tahun yang lalu, nyawanya terancam karena tradisi dari keluarga sang Ayah. Tidak ada yang diperbolehkan memiliki keturunan lebih dari satu, mau tidak mau keduanya mengirim Merapi ke panti asuhan demi keselamatannya. Tak ada maksud lain ataupun rasa enggan kepada Merapi, niatnya memang murni untuk nyawa anak bungsunya. Kasih sayangnya sama dan akan terus bertambah setiap harinya.
“M-Mama... Ayah...”
Panggilan pertamanya untuk orang tua kandungnya, bagai bayi yang baru saja terlahir ke dunia, sebuah panggilan sederhana namun sangat berkesan bagi sepasang suami-istri itu. Anak bungsunya telah kembali, ia telah kembali ke dalam pelukannya.
“Iya, iya sayang. Ini Mama dan Ayah.”
Pelukan hangat menjadi pemandangan yang begitu menyejukkan hati, Merapi kini telah menemukan rumahnya. Kemungkinan buruk yang ia pikirkan sejak tadi ternyata tak berlaku bagi manusia seperti Merapi. Dirinya penuh dengan aura baik, tidak ada sedikitpun rasa dendam dan benci dalam dirinya.
Merapi berusaha mengerti, ia tak mampu membenci kedua orangtuanya meskipun dia ingin. Rasa haru dan senang terlalu menguasai hatinya.
“Ayah.. Mama..”
“Merapi akhirnya punya orang tua..”